Pembahasan Makanan Dalam Al-Qur’an

Kajian Terhadap Surah al-Baqarah 168, al-Maidah 87, al-An’am 145, dan al-A’raf 31

Pendahuluan

Aktifitas makan merupakan satu aktifitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, baik itu manusia, binatang, maupun tumbuh-tumbuhan. Karena aktifitas tersebut merupakan sunnatullah dan menjadi hukum kausalitas bagi manusia. Manusia membutuhkan makan untuk mendapatkan tenaga dalam beraktifitas.

Dalam Islam, sebagai agama yang sangat kompleks, prihal urusan makan juga telah diatur. Terdapat banyak sekali ayat al-Qur’an maupun sunnah yang membahas tema makananan. Oleh karenanya, cukup penting rasanya untuk mengkaji dan membahas ayat-ayat yang berkenaan dengan tema makanan. Pembahasan lebih lanjut dapat disimak sebagai berikut.

QS. Al-Baqarah Ayat 168

Pembahasan tentang ayat-ayat berkenaan dengan tema makanan akan dibuka dengan membahas QS. Al-Baqarah ayat 168 yakni sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.”

Ayat di atas menyeru kepada umat manusia agar memakan makanan yang halal lagi baik. Ada dua kata yang urgen untuk ditelaah pada ayat di atas, yakni kata manusia (النَّاسُ) dan kata halal + baik (حَلَالًا طَيِّبًا).

Allah dalam ayat tersebut menyeru “hai sekalian manusia” (يَا أَيُّهَا النَّاسُ). Tidak hanya meneru kepada orang-orang muslim, tetapi kepada seluruh umat manusia baik itu orang mukmin ataupun orang kafir. Ini berarti bahwa bumi disiapkan oleh Allah untuk seluruh manusia. Dan barang siapa yang memonopoli hasil bumi untuk kesenangan dirinya sendiri dan merugikan pihak lain, maka hal itu bertentangan dengan sistem yang telah ditetapkan Allah.1 Oleh sebab itu, semua manusia diajak untuk memakan yang halal yang tersedia dibumi.

Selanjutnya adalah kata halal + baik (حَلَالًا طَيِّبًا). Makanan halal adalah makanan yang tidak diharam (tidak dilarang oleh agama). Quraish Shihab menjelaskan bahwa makanan haram terdiri dari dua macam, yakni makanan yang haram karena zatnya, (semisal babi, bangka) dan makanan yang haram tidak karena zatnya (semisal makanan yang tidak diizinkan oleh pemiliknya untuk dimakan). Sedangkan makanan halal adalah yang tidak termasuk kedua macam makanan di atas.

Akan tetapi, tidak semua makanan yang halal otomatis menjadi baik bagi yang mengkonsumsinya (menrut ayat di atas secara tidak langsung). Dalam kaidah fiqih halal terdiri dari “wajib, sunnah, mubah, dan makruh.” Semisal ada orang yang menderita diabetes, otomatis sipenderita dilarang oleh dokter untuk mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar gula yang tinggi.

Dan terakhir ayat tersebut ditutup dengan kalimat janganlah mengikuti langkah-langkah syetan (َﻻ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ). Pertanyaannya adalah dimana letak korelasi antara makanan dan syetan?. Quraish Shihab menjelaskan bahwa, sebagai salah satu aktifitas jasmani, syetan kerap kali menjadikan aktifitas makan untuk memperdaya manusia untuk mengikuti jalannya. Tugas syetan tidak lain adalah untuk mengajak dan menjerumuskan manusia dalam kesesatan.Contoh konkritnya adalah leluhur manusia yakni Adam dan Hawa. Adam dan Hawa dikeluarkan dari syurga karena tipu daya syetan lewat pintu makanan (terlepas dari “perencanaan” tuhan untuk menciptakan khalifah di bumi).

QS. Al-Maidah Ayat 87

Pembahasan selanjutnya dilanjutkan dengan membahas QS. Al-Maidah ayat 87 yakni sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganla kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

At-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sebuah riwayat yakni, ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW. kemudian berkata bahwa dia mengharamkan atas dirinya untuk memakan daging. Karena apabila dia memakan daging maka dia akan terus mendatangi wanita. Riwayat ini dapat dijumpai dalam Sunan Tirmidzi.2

Riwayat lain yang sejalan dengan riwayat di atas adalah riwayat tentang sejumlah sahabat Nabi yang berkumpul untuk membandingkan amal-amal mereka dengan amal-amal Nabi. Akhirnya sahabat tersebut sepakat untuk melakukan amalan-amalan yang berat. Ada yang ingin shalat semalam suntuk, ada yang akan berpuasa terus menerus, dan ada yang tidak akan menggauli wanita. Mendengar hal itu Nabi menegurnya dan berkata: “Sesungguhnya aku adalah yang paling bertakwa di antara kalian, tetapi aku shalat malam dan juga tidur, aku berpuasa tapi juga berbuka, dan aku kawin. Barang siapa enggan mengikuti sunnahku maka ia bukanlah kelompokku.”3

Al-Biqa’i dalam kitabnya menjelaskan bahwasanya Allah memuji rasa takut kepada Allah yang mendorong upaya menjauhkan diri dari gemerlapan duniawi, karena memang hal ini baik. Namun, dalam prakteknya seringkali pelakunya terlalu ketat sampai-sampai meninggalkan yang mubah. Sehingga seringkali kelemahan menghadai keketatan itu mengantar kepada kegagalan beragama. Oleh sebab itu, Islam datang dengan melarang pengetatan beragama seperti itu, dengan menganjurkan moderasi –tidak melebihkan tidak juga mengurangi.4

Selanjutnya Quraish Shihab juga menjelaskan makna dari kalimat jangan melampaui batas (تَعْتَدُوﺍ ﻻ). Dengan menggunakan bentuk kata yang menggunakan huruf ta’, mengandung makna keterpaksaan, yakni diluar batas yang lumrah. Hal ini menunjukkan bahwa fitrah manusia mengarah kepada moderasi dalam arti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Setiap pelampauan batas adalah semacam pemaksaan terhadap fitrah dan pada dasarnya berat, atau risih untuk melakukannya. Inilah yang diisyaratkan oleh kata تَعْتَدُوﺍ.5

QS. Al-An’am Ayat 145

Selanjutnya akan dibahas ayat tentang makanan yang diharamkan oleh Allah, yakni QS. Al-An’am ayat 145:

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: Tiadalah aku memperoleh wahyu yang diwahyukan kepadaku, suatu yang diharamkan bagi yang hendak memakannya, kecuali makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi –karena sesungguhnya ia rijs (kotor)– atau kefasikan (seperti) yang disebut selain nama Allah. Barang siapa yang sedang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini memerintahkan kepada Nabi saw untuk menjelaskan apa yang diharamkan Allah. Ayat ini mengharamkan untuk memakannya, yakni bangkai: binatang yang berhembus nyawanya tidak melalui penyembelihan yang dibenarkan oleh syara’, atau darah yang sifatnya mengalir, bukan yang membeku (bukan seperti hati dan limpa), atau daging babi. Karena sesungguhnya babi atau semua yang disebut oleh ayat di atas adalah رِجْسٌ yakni kotor. Selanjutnya ayat tersebut juga mengharamkan kefasikan, yakni perbuatan yang mengandung resiko keluar dari akidah yang benar, yakni memakan binatang yang ketika menyembelihnya dengan menyebut selain nama Allah. Kata رِجْسٌ mengandung makna yang sangat luas antara lain kotor lahir batin, dosa, pekerjaan yang tidak layak untuk dilakukan dan mengarah kepada resiko siksa.

Ayat ini seperti yang tertera di atas, tidak mencakup segala yang diharamkan wahyu, baik itu wahyu al-Qur’an maupun Sunnah. Karena pada tempat yang lainnya dari al-Qur’an dan Sunnah ditemukan makanan-makanan lain yang diharamkan, semisal memakan binatang buas, binatang yang dapat hidup di dua alam. Imam Syafi’i menjelaskan bahwa ayat ini turun dalam konteks menjawab pertanyaan, yakni diskusi antara Nabi SAW dan kaum musyrik tentang binatang ternak yang mereka percaya diharamkan Allah. Sehingga ayat ini hanya menguraikan hal-hal yang didiskusikan tersebut.6

Yang juga menjadi pembahasan ulama pada ayat di atas adalah kata ia pada firman-Nya: sesungguhnya ia rijs. Apakah menunjuk pada seluruh makanan yang diharamkan di atas atau hanya menunjuk kepada babi. Kalau memang hanya menunjuk kepada babi, maka ia mengandung penekanan tersendiri terhadap keburukan babi.

Akan tetapi, Allah memberi kelonggaran bagi yang dalam keadaan terdesak yakni dalam keadaan yang diduga dapat mengakibatkan kematiannya, baik karena amat sangat lapar atau sebab lainya, sehingga untuk menghindari kemungkinan buruk tersebut tidak ada jalan lain selain memakan salah satu dari makanan tersebut di atas. Sesungguhnya allah maha pengampun lagi maha penyayang, dipahami sebagai izin untuk memakan atau melakukan sesuatu yang haram dalam keadaan darurat.7

QS. Al-A’raf Ayat 31

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“hai anak-anak adam pakailah pakaian kamu yang indah di setiap masjid, dan makan serta minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Sementara ulama berpendapat bahwa ayat ini turun ketika beberapa orang sahabat Nabi bermaksud untuk meniru kelompok Hummas yakni kelompok suku Quraisy dan keturunannya yang sangat menggebu-gebu semangat beragamanya sehingga enggan bertawaf kecuali memakai pakaian baru yang belum pernah dipakai melakukan dosa, serta sangat ketat dalam memilih makanan ketika melaksanakan ibadah haji. Sehingga sahabat Nabi SAW berkata: “kita lebih wajar melakukan hal demikian daripada Hummas.” Nah, ayat ini turun untuk menegur dan memberi petunjuk bagaimana yang seharusnya dilakukan.8

Lewat ayat ini Allah memerintahkan kepada seluruh anak adam untuk menutup auratnya, karena membuka aurat pastilah buruk. Lakukanlah hal itu setiap kamu memasuki masjid, baik itu dalam arti khusus yakni bangunan masjid, maupun dalam arian luas yakni bumi. Dan makanlah dan minumlah, makanan yang halal lagi baik (sejalan dengan ayat sebelumnya yang dibahas). Dan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal, baik dalam beribadah dengan menambah cara atau kadarnya baik itu dalam hal makan dan minum atau apa saja, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Dalam konteks berlebih-lebihan ini terdapat pesan Nabi: “tidak ada wadah yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi putra-putri adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus (memenuhkan perut) maka hendaklah sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya. (HR. Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban).

Kesimpulan

Setelah mendapat penjelasan dari ayat-ayat di atas, penulis dapat mengambil poin penting yakni Islam mengajarkan kewajaran, kesederhanaan, dan menempatkan sesuatu pada temaptnya (daslam hal ini terkait dengan prihal makanan). Ayat pertama adalah seruan terhadap seluruh umat manusia secara global entah itu muslim ataupun nomuslim untuk memakan makanan yang halal lagi baik baginya.

Selanjutnya ayat kedua merupakan seruan terahadap orang-orang mukmin. Ayat ini mengajarkan nilai-nilai untuk selalu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Banyak orang yang dalam beragama justru terlanjur ekstrim dalam beragama. Karena ingin menunjukkan rasa berimannya malah orang-orang tersebut ikutserta meninggalkan dan mengharamkan atas dirinya perbuatan-perbuatan yang sebernarnya diperbolehkan oleh Allah. Oleh karenanya dengan ayat ini harusnya orang-orang mukmin mampu menangkap pesan-pesan dari ayat ini.

Selanjutnya, ayat terakhir adalah seruan terhadap seluruh bani adam untuk tidak berlebih-lebihan (dalam hal ini adalah makan dan minim), tetapi tentunya kita dapat menarik seruan ayat ini dalam ranah yang lebih luas. Akhirnya, sudah sepatutnya tuntunan yang diajarkan al-Qur’an ini untuk selalu dilaksanakan karena sesungguhnya hal ini merupakan kemaslahatan bersama dan sesungguhnya Islam adalah agama rahmatan lil alamin.